Postingan

Mahkluk Lain

 Belakang rumah mak Siti ditumbuhi tanaman-tanaman menjalar. Binahong dan suruh merah ikut menjalari sebuah bidang yang dibuat mak Siti untuk jalur tumbuh daun-daun itu. Mak Siti juga memanfaatkan sebagian lahan di belakang rumahnya untuk ditanami singkong, bayam, kangkung. Ada pula pohon jambu biji, sirsak, mangga, dan pepaya. Sebuah pohon besar menjulang tinggi pada sisi paling ujung kebon, pohon belimbing wuluh. Seringnya mak Siti memasak makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan di belakang rumahnya. Aku kadang kala menemani mak Siti jika akhir pekan tiba. Sangat menyenangkan berbincang dengan mak Siti, yang kadang kala omongannya harus kucerna lebih dalam lagi. Banyak pesan tersirat yang baru kusadari setelah beberapa hari mengobrol dengan mak Siti. Minggu pagi ini aku menemani mak Siti dan ikut membantunya memasak sayur dengan bahan utama daun pepaya. Aku mengiris-iris bwang merah dan bawah putih, lantas beberapa batang kunyit yang ditumbuk halus. Serai juga tersedia di belak...

Tuhan Bukan Pelupa seperti Manusia

 Suatu hari, aku berkunjung ke rumah mak Siti. Hanya sekadar main saja. Menemani mak Siti yang selalu sendiri di rumah. Sebagai seorang yang hampir menginjak usia lima puluh, sudah seharusnya mak Siti tinggal bersama anak-anaknya. Tetapi mak Siti bersikukuh untuk tinggal sendiri. "Mak, kenapa tidak tinggal dengan salah satu anak, emak?" Mak menceritakan keluarganya. Ia memiliki dua anak yang sekarang tinggal di ibu kota. Beberapa kali ia sudah diajak untuk tinggal dengan salah satu anaknya. Tapi mak Siti selalu menolak. Ia takut jika tinggal di ibu kota bersama anak-anaknya akan membuatnya lupa dengan kekasihnya. "Mak tidak rindu kah dengan mereka?" "Mak lebih rindu dengan kekasih sejati, emak." Mak Siti adalah seorang janda. Ketika masih muda, suaminya pergi berperang dan meninggal di medan perang meninggalkan dua anak perempuan. Sejak itu, ia membanting tulang mencukupi kebutuhan dua putri kecilnya. Bekerja sebagai apa saja. Buruh tani, buruh cuci pakaia...

Bayangan di Atas Kepala

 Hari ini ayah pulang malam, sebab ada pekerjaan yang harus diselesai hari ini juga. Jadilah ayah melembur di kantor. Hanya ibu dan aku yang di rumah, dan seorang mbak yang membantu membereskan rumah. Mbak sering berjamaah magrib di musala desa. Orang-orang menyebutnya dengan langgar. Mbak adalah warga asli desa yang dipekerjakan ibu untuk membantu urusan rumah tangga. Dan sebagai sebuah kebiasaan, kebanyakan para ibu desa berjamaah di langgar ketika maghrib tiba, termasuk mbak. Ibu yang beradaptasi dengan lingkungan, beberapa hari yang lalu ikut berjamaah maghrib di langgar bersama mbak. Kali ini ibu mengajakku  ikut serta. Aku menurut saja, beberapa teman sekolahku juga melakukan hal yang sama. Aku merasa ini adalah ritual para penduduk. Ketika sampai di langgar aku bertemu dengan mak Siti yang duduk di barisan paling belakang. Aku mengikutinya, berdiri di sampingnya. Sesuatu yang ganjil terjadi sesaat setelah imam melakukan takbiratul ikhram. Mak Siti tiba-tiba tertawa ceki...

Perempuan Itu Bernama Mak Siti

 Ayah memilih rumah di pedesaan daripada di kota. Ia ingin membunuh kekejian dan emosional kota ketika usai dari kantor. Ayah rela menempuh perjalanan sedikit lebih lama untuk sampai di kantor dan sebaliknya demi tinggal di desa ini. Teman ayah yang juga membantuku mencarikan sekolah baru yang memberikan rekomendasi tempat tinggal di sini. Awalnya aku menggerutu. Sebab segala fasilitas cukup jauh jaraknya dari desa tempat tinggal kami. Seperti transportasi umum, toko sepatu, toko pakaian, dan tempat perbelanjaan. Tetapi yang aku sukai juga, hidup di pedesaan ini jauh dari kebisingan dan emosional kemacetan jalanan. "Kita bisa menghirup udara bersih di sini. Jauh dari jalan raya, dan tenang dari suara bising kendaraan. Iya kan?" Aku menyetujui ibu dan mencoba berpikir sepositif mungkin. Pasti ada hal-hal yang menakjubkan yang tidak aku temui di rumah lama. Sebulan berlalu dengan cepat. Aku masih berhubungan dengan Indra. Kami sering melakukan vc dan selalu memberi kabar masing...

Pindah Rumah

 Ayahku ditugaskan pada kantor cabang di kota lain. Ini artinya kami sekeluarga ikut pindah ke kota tempat Ayah bekerja. Promosi pimpinan perusahaan tempat Ayah bekerja diberikan sebab keuletan beliau dalam menuntaskan pekerjaan dengan baik. Sebelum berangkat, aku memutuskan janji temu dengan Indra. Pamit. Aku bersyukur bertemu dengan Indra karena ia adalah laki-laki pengertian dan dewasa. Setidaknya itu menurutku. Mungkin karena kami selisih tiga tahun, jadi aku memandangnya seperti seorang dewasa yang menjaga adiknya. "Aku minggu depan pindah rumah." "Kenapa mendadak sekali?" Aku diam. Kesibukan membereskan rumah untuk perpindahan menyita banyak waktu sampai tak sempat membahasanya bahkan hanya dalam chat. Ketika membahas perpindahan rumah, aku telah menyiapkan hati dengan sungguh-sungguh. Banyak temanku yang memiliki hubungan jarak jauh berakhir dengan tragis. Hanya satu dua yang mampu bertahan sampai sekarang, tetapi itu pun salah satu dari mereka juga berkencan...

Couples

 Sore ini aku memutuskan untuk menghibur diri ke mall. Hanya untuk bersenang-senang sejenak sembari menikmati pemandangan yang menyegarkan mata. Orang-orang menyebutnya dengan cuci mata. Terkadang aku merasa tergelitik ketika mendengar istilah-istilah macam begitu. Cuci mata, aku jadi membayangkan mata manusia-manusia itu berbusa. Mengerikan. Aku berdiri bersandar tangan pada besi pelindung bagian tepi bangunan di lantai dua. Pada area ini, menurutku sangat pas untuk menikmati hiruk hilir manusia yang sibuk menghabiskan uang gaji yang telah ditabung beberapa bulan. Tulisan disc. 70% terpampang jelas dan besar pada sebuah x-banner di depan toko. Ada pula yang menuliskan up to 90%.  Latar mencolok seperti warna merah memang sering digunakan para marketer untuk menarik mata memandang dan tergiur pada diskon yang diberikan oleh gerai. Di atas sini aku memandangi sekitar. Manusia-manusia di bawah sana. Ada yang asyik bermain ponsel karena gerainya sepi. Ada yang mengaca dan m...

Manusia Ramah

 Sudah tidak dapat dipungkiri bahwa Indonesia terkenal dengan keramahan para penduduknya. Mulai dari tutur kata, senyum yang dilemparkan bahkan kepada orang yang tidak dikenal, dan mengajak ngobrol basa-basi pada teman seperjalanan dalam transportasi umum. Ngomongin soal transportasi umum, saya sangat beruntung bertemu teman duduk yang ramah. Ya meskipun sekali dua kali juga pernah bertemu dengan yang sangat pendiam dan tidak acuh. Jadi, saya bercerita yang baik-baik saja. Para manusia ramah yang menjelma sebagai teman duduk ketika di bis. Pagi itu saya hendak pulang kampung. Saya sengaja memilih waktu di pagi hari sebab berpikir bahwa penumpangnya mungkin sedikit. Jadi tidak perlu berdesak-desakan. Ketika sampai di terminal, semua imajinasi dan harapan saya pupus sudah. Ternyata penumpang yang menggunakan moda transportasi bus dengan jurusan yang sama dengan banyak tidaklah sedikit. Melihat kerumunan manusia seperti semut yang sedang berebut gula membuat saya sedikit mual. Ingin k...