Tatapan itu yang aku rindukan

 

April 2026, aku mendengarkan lagu berjudul 1000x dari Ghea Indrawati. Pada verse 1, liriknya mengingatkanku pada cinta pertamaku. Cinta pertama yang mungkin bisa disebut sebagai cinta monyet, karena saat itu aku masih di bangku sekolah dasar. Hahaha

Saat itu aku kelas 4 SD. Aku yang sehari-hari hanya sekolah, jajan di kantin seperlunya saat jam istirahat, dan bermain bersama teman lain, seperti lompat tali, petak umpet, atau kejar-kejaran. Aku tahu saat itu aku merasakan kebahagiaan masa kecil.

Tetapi, siapa sangka ternyata ada yang memperhatikan aku. Entah sejak kapan, ia adalah kakak kelas. Selisih kami dua tingkat kelas.

Saat di bangku sekolah dasar, aku satu sekolah dengan salah satu anak tetangga, bernama Adin, ia satu kelas dengan kakak kelas yang aku sebutkan di atas. Rumah Adin persis di sebelah rumahku. Lalu ada Ria, selisih satu rumah denganku, dia adik kelasku, dan satu teman sekolah yang rumahnya berhadapan dengan rumahku. Selain itu, ada satu sepupu aku yang satu sekolah denganku, ia satu tahun lebih tua dariku.

Sekolah kami memang dekat dari rumah, kami berangkat sekolah masing-masing, tetapi jika waktu pulang sekolah, aku biasanya berjalan pulang bersama sepupuku, Maya. Ia lebih dari sekadar sepupu, aku sering bermain bersamanya setelah pulang sekolah. Kami layaknya saudara, adik dan kakak, teman bermain, juga sahabat. Kami sering bersama dan sering berbagi cerita, lebih tepatnya ia yang lebih sering bercerita dan aku mendengarkan semua ceritanya hingga tuntas. Masa kecil kami memang menyenangkan.

Hingga di suatu hari, saat pulang sekolah, aku dan Maya berjalan berdampingan menuju rumah. Jarak rumah kami dan sekolah sekitar dua kilometer. Saat kami sedang berjalan kaki, dari arah belakang ada seorang anak laki-laki dengan sepedanya bersebelahan dengan Adin. Adin lalu menghentikan langkah kami. “Mau pulang bareng aja? Biar nggak capek,” kata Adin.

Mendengar itu, Maya bertanya padaku, “Gimana, Ra, mau?”

“Tapi kan sepedanya Cuma satu, terus aku gimana nanti?”

Adin melihat ke arah temannya yang juga menaiki sepeda. Maya sangat tahu pribadiku, aku adalah seorang pemalu jika bertemu dengan orang baru.

“Aku sama temennya Adin, kamu sama Adin, kan kamu udah kenal Adin. Oke?” tawar Maya kepadaku.

Mendengar itu, Adin tidak setuju, “Maya sama aku, Rahma sama temen aku. Kita kan sama-sama temen, udah ayo, udah panas ini.”

Memang benar kata Adin, hari itu matahari sedang terik. Panas membakar kulit kami yang kecoklatan, keringat kami, si anak-anak sekolah dasar ini menguap ke udara, pengap mulai menyergap tubuh kami. Siang yang terik membuatku menyetujui usul Adin. Aku menuju ke arah teman Adin, naik pada pijakan kaki roda belakang sepeda BMX-nya. Ia lalu mengayuh sepeda, perlahan. Mukaku tentu saja memerah, malu, jadi aku memutuskan untuk diam.

Adin mengayuh sepeda lebih dulu bersama Maya, aku dan teman Adin berada jauh di belakang. Anak laki-laki ini sengaja mengayuh sepedanya pelan, dan ia sadar bahwa aku pemalu. Ia mencoba mengajakku berbicara untuk memecah keheningan. Jalanan saat itu cukup sepi, beberapa sepeda motor mendahului kami, beberapa mobil juga melalui kami dengan cepat. Sekolah kami berada di jalan besar utama pinggir kota, sedangkan rumah kami berada di perkampungan.

“Aku Wisnu, kamu siapa?”

“Aku …. Rahma,” jawabku dengan malu.

“Hmm, namamu cantik.”

Aku hanya tersenyum. Sudah bisa kupastikan pipiku memerah karena malu. Adin dan Maya jauh di depan, sedangkan Wisnu masih mengayuh sepedanya dengan pelan.

“Kamu satu kelas ya sama Maya?”

“Eng .. enggak, aku kelas empat, Maya kelas lima.”

“Ohh, iya juga sih, aku sering melihat kamu pas pelajaran di dalam kelas.”

Aku masih diam, aku tidak tahu apa maksudnya.

“Kamu tetangganya Adin kan?” lanjutnya.

“Iya, rumah kami sebelahan.”

“Aku kayaknya bakal sering main di rumah Adin.”

“Lagi ada tugas kelompok ya?”

“Uh, enggak juga sih, hanya main aja.”

Kini kami membelok pada jalanan yang diapit ladang sawah pada kanan dan kiri. Pemandangan hijau dan angin segar menyapa kami dengan segala keindahannya. Terlihat beberapa petani yang menuju gubuk untuk istirahat. Petani lain telah sampai pada gubuk dan menggunakan topi capilnya sebagai kipas. Lalu kami membelok ke kanan dan sampai pada perkampungan tempat tinggal kami.

Wisnu menghentikan kayuhan sepedanya. Kini kami sudah berada di depan rumahku. Adin berhenti di depan rumah Maya. Saat itu aku masih sangat polos, aku bahkan tidak memiliki pertanyaan, bagaimana orang yang baru aku kenal ini mengetahui persis rumahku. Aku hanya menyebut kalau rumahku bersebelahan dengan rumah Adin, tetapi tidak menjelaskan di sebelah Utara atau Selatan dari rumah Adin, tetapi saat itu, ia berhenti tepat di depan rumahku, seolah ia sudah hafal pintu depan rumahku.

Aku turun dari pijakan kaki roda belakang sepedanya. “Makasih ya,” ucapku dengan wajah malu.

Tidak lama kemudian Adin berada di sebelah Wisnu. “Ayo ke rumah.” Wisnu mengiyakan, dan mereka menuntun sepeda masing-masing ke rumah Adin yang persis berada di sebelah rumahku.

---

Suatu sore, sebuah surat datang kepadaku, surat itu berisi sebuah pernyataan bahwa sang pengirim memiliki perasaan suka terhadapku, namun aku yang saat itu masih polos tentang apa itu cinta, tidak memahami apa isi surat itu, jadi kutanyakan kepada Maya.

“Ini apa sih, May, maksudnya?”

“Wuahh, ini dapat dari siapa? Ada yang suka sama kamu, Ra,” jawab Maya dengan wajahnya yang ceria, seolah menunjukkan ia mendukungku.

Aku menunjukkan wajah bengong saat itu, bocah kelas empat sekolah dasar yang tidak tahu menahu soal apa itu cinta atau jatuh cinta.

“Terus aku harus apa kalau ada anak laki-laki yang suka sama aku?”

“Ya kamu suka sama dia juga nggak? Kalau suka, kamu balas perasaan dia, kalau tidak suka ya tolak saja.”

“Gimana caranya aku bisa tau kalau suka dia atau enggak?”

Maya menjelaskan kepadaku bagaimana reaksi tubuh jika memiliki perasaan suka kepada orang lain. Dada yang berdebar saat bertemu atau berhadapan, perasaan senang saat tahu kami akan bertemu, jika mengingat wajah atau namanya saja sudah cukup membuat kita tersenyum sendiri. Rasa ingin terus bersamanya saat bertemu. Tidak ketinggalan, diri kita akan terasa kosong jika tidak bertemu barang sehari saja. Ini adalah penjelasan singkat dari seorang anak sekolah dasar kepada adik tingkatnya.

Aku mengangguk, mencoba memahami semua itu dengan kapasitas otakku yang belum sempurna tentang apa itu cinta. Aku menjalani hari-hariku seperti biasanya, tidak ada yang berubah. Sesekali saat pulang sekolah, jika jam pulang satu sekolah sama, Wisnu menawarkan diri untuk mengantarku pulang dengan menaiki sepedanya. Dan aku menerima tumpangan itu.

Kami melewati persawahan saat pulang sekolah, aroma padi yang menghijau begitu segar, angin sejuk menyapu pipi seolah menyambut kami yang memasuki jalanan persawahan. Hari itu terasa sedikit mendung, awan menutupi teriknya matahari, menaungi kami yang sedang melewati jalanan yang membelah ladang padi di kiri dan kanan sebelum akhirnya kami memasuki area perkampungan. Tidak terasa, kami sudah sampai di depan rumahku. Aku turun dari pijakan kaki pada roda belakang sepeda Wisnu, mengucapkan terima kasih dan segera melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam rumah. Tepat setelah aku membalikkan badan, Wisnu bertanya padaku.

“Kamu sudah membaca surat dariku?”

Aku berpikir sejenak, lalu mengingat bahwa aku pernah mendapatkan surat cinta tanpa nama sang pengirim. Aku membalikkan badan bertanya kepadanya apa isi surat itu, untuk memastikan bahwa surat yang kuterima itu darinya atau dari orang lain, lalu Wisnu mengatakan bahwa inti dari surat itu adalah ia menyukaiku. Dari jawaban yang diucapkan oleh Wisnu, kini aku tahu siapa pengirim surat yang aku terima sore itu.

“Aku tidak merasakan apa yang dikatakan oleh Maya. Jadi aku tidak tau apakah aku suka kamu atau tidak suka,” jawabku.

Jawaban Wisnu yang saat itu tidak aku mengerti, kini aku memahaminya setelah aku beranjak dewasa. Apa arti dari kalimat yang ia ucapkan padaku.

“Aku tidak memaksamu, Ra, aku akan tetap menyukaimu sampai entah kapan, dan selalu jaga kamu.”

Aku tidak membalas ucapannya, aku diam dan memandang wajahnya. Jika boleh jujur, aku bahkan tidak tahu harus membalas dengan kalimat seperti apa. Mengetahui aku yang tidak bisa membalas ucapannya, Wisnu pamit untuk pulang, memutar sepedanya ke arah lain, lalu mengayuh sambil berucap, “Aku sayang kamu.”

Aku masih terdiam sambil melihat ia pergi dan saat mengetahui dirinya telah hilang dari pandangan, barulah aku merasakan debar yang tanpa sadar telah membuatku tersenyum malu-malu.

---

Sejak saat itu, beberapa kali Wisnu memberiku jajanan atau minuman dari kantin sekolah yang dititipkan kepada teman kelasku. Aku bahkan ingat bagaimana ia memberiku cokelat saat Valentine, ini adalah hadiah pertama yang aku terima dari orang lain dalam perayaan hari penuh kasih sayang. Sesekali kami bertemu dan bersepeda bersama sambil tertawa, dan dari sepanjang yang aku ingat, ia bahkan tidak pernah mencoba untuk memegang tanganku, memelukku atau sekadar menyentuhku. Ia hanya memandangku. Tatapan yang baru bisa aku pahami saat aku beranjak dewasa. Tatapan seseorang yang memiliki perasaan suka, pandangan paling tulus yang pernah aku terima dari seseorang.

Air mataku jatuh saat menuliskan cerita ini, mengingat betapa aku pernah dicintai dengan setulus itu, disayangi sepenuh itu. Ia memberi tanpa meminta balasan, tanpa memaksa, tanpa mencederai apa itu arti cinta, kasih, maupun rasa sayang. Tatapan tulus yang setelah ia belum pernah aku temui kembali.

Dari lirik 1000x pada verse 1

Lalu aku memandangmu

Dan tersadar betapa beruntungnya

Ada cinta seperti cintamu kepadaku

Sampai detik ini, aku masih berharap, akan ada seseorang yang memandangku dengan tulus, memberi tanpa meminta, tanpa memaksa, tanpa mencederai apa itu arti cinta, kasih, maupun sayang. Tatapan yang selama ini aku rindukan akan ada pada seseorang untukku, sehingga aku tidak takut melakukan hal yang sama kepadanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gimana kalau jodoh kita adalah kematian?

Pentingnya Copywriting dalam Promosi

Makalah Kurikulum dan Pembelajaran