Gimana kalau jodoh kita adalah kematian?
Hari ini aku pulang dari Jogja menuju kota kelahiranku. Kota kecil yang berada di Jawa Timur. Kota sepi, yang banyak orang bilang, ini adalah kota yang cocok untuk hidup setelah pensiun.
Aku menaiki
kereta antar kota, kelas ekonomi tentu saja. Kereta yang kutumpangi kali ini
penuh, semua kursi telah terisi oleh manusia-manusia yang ingin kembali ke kota
asal mereka, barangkali malah ada yang mau liburan, ya siapa yang tahu, sebab
aku juga tidak bertanya kepada mereka satu per satu.
Saat
menaiki kereta api ini, aku duduk di samping jendela. Tempat duduk kesukaanku
sebab bisa memandang dunia luar. Saat kereta ini melaju, kami melewati area
persawahan yang hijau, beberapa petani sedang bekerja menyemprot zat pengusir
hama agar padi-padi itu dapat tumbuh dengan bagus dan memiliki kualitas yang
bagus. Bagi mereka, ini adalah tentang kualitas, bagi aku yang kini berada
dalam kereta dan melewati mereka, ini adalah sebuah pemandangan yang
mengagumkan.
Mataku
sejenak melirik pada penumpang di depanku. Mereka adalah sepasang suami istri,
saat itu seorang anak perempuan, mungkin baru berusia tiga tahun, berada di pangkuan sang ibu sambil tertidur.
Mungkin si anak sudah sangat lelah. Bibirnya yang sedikit terbuka dan mata yang
tertutup rapat menunjukkan bahwa ia sedang tertidur pulas. Baju pink si anak
dengan bordir beruang di dada seolah mengatakan kepada orang lain bahwa baju
ini adalah baju kesukaannya. Lalu aku melihat ke arah ibu yang memangkunya. Tangannya memeluk si anak dengan lembut dan hati-hati, seolah menunjukkan
kekhawatiran jika si anak akan jatuh dari pangkuannya. Matanya sesekali melihat
ke arah luar jendela, sesekali ia mengobrol dengan sang suami. Pandangan kualihkan sejenak untuk melihat sang ayah dari si gadis kecil yang berada di pangkuan
ibunya. Sang ayah nampaknya adalah pekerja keras, raut wajahnya menunjukkan kelembutan khas seorang suami yang siap siaga untuk membantu sang istri. Ia
juga nampak sigap ketika sang istri menunjukkan tanda bahwa ia sedang haus dan membutuhkan minuman. Sang suami segera mengambil botol minum yang berada di tas bawah kursi
penumpang, membuka tutup botol dan menyodorkannya kepada sang istri.
Sejenak aku
melihat sebuah keluarga kecil yang lengkap. Pasangan yang saling mengerti satu
sama lain, family goals. Mataku memandang ke arah luar, kali ini kami
melewati sebuah jembatan, sungai kecil mengalir di bawahnya, air sungai itu
nampak kecoklatan. Entah mengapa begitu? apakah karena aliran airnya terlalu
deras sehingga membawa tanah bersamanya dan bercampur kemudian membuat airnya berubah menjadi cokelat. Di sela melihat sungai itu, ingatanku meloncat pada sebuah
percakapan bersama seorang teman.
Saat itu ia
sedang main ke kos. Kami berencana akan pergi ke Pakuwon, hanya jalan-jalan dan
cuci mata jika menggunakan istilah lama. Saat itu matahari akan tenggelam, sebentar lagi waktu sore akan berganti malam. Saat
kami tiba di mall, kami mulai berkeliling, sesekali mampir ke tenan pakaian,
melihat-lihat siapa tau ada yang cocok dan membelinya. Lalu kami lanjut ke
lantai atas, menuju tenan pernak pernik. Melihat boneka, music box, blind
box, jajanan aneh yang bisa jadi jarang kita jumpai di toko kelontong atau
indomart bahkan alfamart. Setelah lelah berkeliling di tenan barang lucu, kami
lanjut ke lantai atas menuju tenan Gramedia. Melihat buku yang sekiranya bisa
kami baca nanti atau sekadar mencari informasi jika ada buku baru yang kami
belum ketahui atau buku yang mungkin lucu dan menarik minat kami untuk membeli
dan membacanya.
Biasanya
kami sedikit lama di sini, mengitari rak buku satu per satu, melihat
judul-judul buku dari paling atas sampai paling bawah. Bagi kami ini
adalah hal yang menyenangkan. Setelah lelah melihat buku dan membeli beberapa
buku yang menarik untuk dibeli, kami memutuskan untuk ke food court,
memesan 2 porsi yamie lengkap beserta minumnya. Di saat seperti inilah kami
mulai berbincang, mulai dari hal yang receh hingga ke hal-hal yang bagi kami
adalah berat.
Awalnya
kami membicarakan soal K-Pop, siapa yang menjadi bias kami pada boyband
atau girlband tertentu. Band favorit kami masing-masing, perjalanan idol
kami masing-masing. Obrolan mengalir, tiba-tiba saja berubah topik menjadi
keluhan di tempat kerja. Bagaimana kami merasa jenuh tetapi belum memiliki
keberanian yang cukup untuk mengundurkan diri. Ya, kalian mungkin sering
menjumpai bahwa banyak yang memparodikan hal ini di media sosial, yang sering
bilang mau resign tapi bertahan sampai bertahun-tahun. Hahaha, ya salah
satu kehidupan nyata itu ada pada kami. Obrolan semakin mengalir, sesekali kami
sambil memasukan yamie ke dalam mulut, topik kali ini berubah menjadi
pencapaian, di usia kami yang sekarang adalah usia pekerja dan bisa dibilang dewasa muda. Pada usia yang sekarang ini, apa yang sudah kami
capai dengan segala kesulitan ekonomi saat ini, yang kemudian kami mensyukuri
kehidupan kami saat ini yang menjadi alasan mengapa kami memutuskan untuk
tidak mengundurkan diri. Sejenak kami seperti melakukan refleksi diri, bahwa
kami sangat beruntung dari jutaan orang di luar sana yang mungkin saat ini- mereka bahkan belum pernah merasakan bagaimana jalan-jalan di mall dan
menikmati makanan di sini dengan tenang.
Hingga
kemudian obrolan kami menuju pada arah keresahan kami yang paling dalam. Ya,
soal jodoh. Kami menceritakan perasaan kami masing-masing, kepada siapa kami
jatuh cinta, tapi kami hanya menyimpan perasaan ini sendirian. Berdoa agar ia
selalu berada dalam perlindungan terbaik dari Tuhan, dan tentu saja, berharap
agar yang namanya yang kami sebut dalam doa menjadi jodoh terbaik untuk kami. Begitu
pula sebaliknya.
Pada titik
obrolan ini, perasaan menyerah juga menyergap dengan tiba-tiba, hingga temanku
berkata, “kalo jodohku ternyata adalah kematian gimana ya?”
Aku
tersentak, aku tidak pernah memiliki pemikiran seperti itu, “hmmm, jujur aku
nggak pernah kepikiran seperti itu, dan memang usia itu nggak ada yang tahu,
dan kalau benar seperti katamu juga, kalau jodohku ternyata adalah kematian,
ingsyaAllah aku akan mengikhlaskannya,” lalu aku termenung, aku bahkan tidak
menyadari bagaimana bisa kata-kata yang barusan aku ucapkan keluar begitu
saja.
Aku kembali
menatap ke arah luar, kali ini pandanganku terasa buram, satu bulir air mata
mengalir tanpa sengaja, seolah ia sudah lama terbendung di sana dan kantung air
mataku sudah tidak muat.
Kereta berhenti sejenak, pasangan suami istri dan anaknya ternyata telah bersiap untuk turun. Aku baru menyadari bahwa aku melamun sampai tidak sadar bahwa mereka sudah berdiri, bahkan tidak mendengar suara petugas kereta api dari pengeras suara yang memberikan informasi bahwa kereta segera sampai pada salah satu stasiun transit. Sang anak telah bangun, kini berpindah pada gendongan sang ayah. Sepasang suami istri itu membawa ransel masing-masing, “mari mbak,” sapa sang istri. Aku membalas dengan senyum dan anggukan.
Kini mereka
telah sampai pada tujuan kota mereka, sedangkan aku masih harus duduk dan
melanjutkan perjalanan.
---
Sesampainya
di stasiun kota kelahiranku, aku memesan gojek menuju rumah. Inilah kali
pertama aku benar-benar merasakan yang disebut dengan pulang kampung. Hatiku
terasa bahagia ketika memasuki rumah. Aku membuka pintu rumah setelah membuka
kuncinya, aku mengucapkan salam, dan tentu saja tidak ada jawaban dari dalam rumah.
Ibuku telah lama tiada, dan bapak sedang berada di rumah istrinya.
Aku sempat
membeli bunga untuk ziarah ke makam Ibu. Saat perjalanan menuju rumah, aku
meminta tolong kepada sang driver untuk mampir ke penjual bunga, dan
membeli satu plastik bunga khusus untuk ziarah makam. Entah bagaimana, aku merasa
damai ketika memasuki rumah, walaupun rumah ini sedang kosong. Aku melihat
semua isi rumah, dan menarik memori saat aku masih kecil, saat semua orang
masih berkumpul.
Keesokan
harinya, bapak datang ke rumah untuk menjemputku menuju rumah istrinya. Ini
adalah pertama kalinya (dari sepanjang yang aku ingat) bapak datang menjemputku.
Kami menaiki kendaraan baja roda empat miliknya. Bapak menyetir dan aku duduk
di samping kursi supir sebagai penumpang. Saat perjalanan, bapak mengajakku
untuk membeli buah dan berkata “nanti bawalah ini ketika kembali ke Jogja,”
sambil menunjuk pada satu kantong plastik buah yang sudah berada di kursi
belakang.
“Iya bapak,”
ucapku singkat.
Kali ini
aku pulang ke kampung halaman dalam bentuk merayakan Hari Raya Fitri, yang tentu saja, pertanyaan
kapan menikah? siapa pasanganku sekarang? sudah menjadi pertanyaan yang seolah
tidak pernah luput dilontarkan kepadaku. Betul saja, bapak bertanya kepadaku
setelah kami membeli buah.
“Kamu kapan
menikah, nduk? Calonmu mana?”
Aku terdiam.
Diam yang sedikit lama. Mataku mulai berkaca-kaca, aku berusaha untuk tetap
tenang, dan dengan sekuat tenaga menjawab pertanyaan bapak, “Bapak tau kan
Rahma sekarang sakit apa? kalau nanti ternyata jodohku adalah kematian, Bapak
ikhlas ya," hening, "Rahma masih belum punya pasangan, belum ada calon,” lanjutku, “selama
Rahma masih hidup, Rahma terus berusaha untuk membuka hati, Pak, terus berusaha
untuk bertemu dengan jodoh, tapi kalau hasil akhirnya jodohku adalah kematian,
aku ikhlas. Bapak ikhlas yaa, karena Rahma sudah ikhlas dengan apa yang aku
alami sekarang.”
Bapak diam
mendengar jawabanku. Suasana dalam mobil hening entah berapa lama sampai akhirnya bapak menjawab,
“terus jaga kesehatan ya, nduk, jangan lupa olahraga, makan buah, jangan makan
pedas, jangan makan sembarangan, makan yang teratur.”
"Iya, Pak. Aku terus berusaha untuk sembuh."
"Bapak selalu doakan kesehatanmu. Terus semangat untuk sembuh," bapak diam sejenak, "Bapak sebenarnya khawatir karena kamu di sana (Jogja) sendirian, tidak ada kerabat, tapi Bapak tahu kalau kamu memang harus bekerja di sana. Kalau sudah terasa capek dan ingin menyerah, pulanglah ke rumah."
Aku menjawab
dengan anggukan. Mobil melaju membelah jalanan. Hari itu cerah, langit nampak
biru, seolah dunia juga memberikan semangat untukku.
Komentar
Posting Komentar